Tertanggal 20 Februari 2025 secara resmi presiden Prabowo Subianto melantik
seluruh kepala daerah di Indonesia. Tentunya dalam acara tersebut juga ikut
dilantik bupati dan wakil bupati kabupaten Sumenep yang baru, yakni Ach. Fauzi
Wongsojudo sebagai bupati untuk kedua kalinya dan KH. Imam Hasyim sebagai wakil
bupati. Proses mereka berdua untuk menduduki kursi pimpinan daerah terbilang
cukup menarik setelah mengalahkan pasangan KH. Ali Fikri dan KH. Unais Ali
Hisyam dalam pilkada yang dilaksanakan sebelumnya.
Pertarungan mereka berdua bisa kita juluki sebagai
pertandingan antara kaum Borjuis dan Proletar atau pertandingan antara sang
pemilik modal dan kaum yang sudah lelah dengan pengelolaan modal yang tidak
semestinya dibiasakan. Perjuangan mati-matian diperlihatkan oleh kaum proletar
pada perhelatan pilkada saat itu, mereka habis-habisan memperjuangkan hak dan
martabat mereka yang sebelumnya mulai diabaikan. Mereka bahkan rela
menggelontorkan “Dana pribadi” sebagai bahan bakar pertarungan pasangan Mas
Kiyai (KH. Ali Fikri dan KH. Unais Ali Hisyam).
Pengorbanan kaum proletar pada perhelatan pilkada ini
tentunya bukan tanpa alasan, beberapa golongan diantara mereka ada yang terikat
dengan pasangan Mas Kiyai karena pernah nyantri di tempat pasangan Mas Kiyai
berasal yakni PP. Annuqayah Guluk-guluk dan PP. Aswaj Ambunten. Serta ada
beberapa golongan yang bergabung dalam gerbong mas kiyai karena sudah lelah
dengan kondisi Kabupaten Sumenep yang masih dikatakan belum maju, perlu
diketahui juga bahwa Ach. Fauzi Wongsojudo pernah menjadi wakil bupati dan bupati
di periode-periode sebelumnya. Tentu alasan utama mereka bergabung dengan
gerbong Mas Kiyai dengan harapan jikalau pasangan Mas Kiyai menang pada
perhelatan pilkada maka akan ada perubahan ke arah yang lebih baik kedepannya
di kabupaten mereka.
Namun seperti yang sudah kita sadari, kita sebagai
manusia hanya bisa berencana dan tuhan nantinya yang akan menentukan akhirnya
bagaimana dan seperti apa. Pada perhelatan pilkada tahun 2024 pasangan Mas
Kiyai kalah dari pasangan Ach. Fauzi Wongsojudo dan KH. Imam Hasyim. Pasangan Mas
Kiyai mendapatkan 249.597 suara sedangakan Pasangan
Ach. Fauzi Wongsojudo dan KH. Imam Hasyim memperoleh 379.858 suara
(Sumenepkab.go.id). Setidaknya ada sekitar 130.261 selisih
suara diantara
kedua paslon tersebut. Angka tersebut memang terlihat kecil jika dilihat dari
sudut pandang kaum Borjuis, namun bagaimana jika kita lihat menggunakan
kacamata kaum Proletar. Benarkah secara kuantitas mereka memang benar-benar terpaut
jauh dari kaum Boerjuis, atau
bisa jadi sudah banyak kaum proletar yang mulai beranjak untuk menapaki jalan
baru menuju kehidupan kaum borjuis.
Diakui atau tidak peran kaum Borjuis di kabupaten Sumenep
memang sudah mendarah daging sejak tahun 2004. Sejak saat itu, genderang perang
antar bendera masih saja terus menghiasi perhelatan pilkada setiap lima tahun.
Tentunya, perlehatan pilkada tahun 2024 juga tak luput dari pengaruh beberapa
bendera kaum Borjuis. Meskipun, sudah disampaikan di awal bahwa perhelatan
pilkada tahun 2024 merupakan pertarungan antara kaum Borjuis dan proletar,
tidak menutup kemungkinan pula kaum-kaum Borjuis yang baru muncul dengan
kondisi modalnya belum stabil ikut membantu kaum Proletar dalam rangka
memperlancar jalan mereka kedepannya.
Kondisi seperti ini sangat perlu dipahami oleh kaum muda,
mengingat sepuluh bahkan dua puluh tahun yang akan datang mereka akan
meneruskan jejak yang sudah ditinggalkan oleh para pendahulunya. Ketika hal itu
terjadi, bukan hal yang mustahil jika kondisi kabupaten Sumenep saat ini juga
terjadi di masa depan, Kabupaten yang sampai saat ini masih ada di urutan atas
pemegang gelar dengan daerah termiskin se-Jawa Timur, gelar ini sudah tak lepas
dari kabupaten Sumenep beberapa tahun terakhir.
Pemahaman terkait arah gerak politik memang perlu di berikan sejak usia dewasa awal, upaya ini untuk memberikan stimulus kepada kaum muda, bahwa situasi dan kondisi pemerintahan saat ini sebenarnya bisa dirubah dengan inovasi-inovasi yang lebih baik ketimbang hanya sekedar euforia semata. Mereka juga perlu diberikan pemahaman, bahwa daerah yang minim akan inovasi nantinya akan kalah dengan daerah yang inovasinya lebih maju. Bahkan SDA yang berlimpah juga bukan jaminan daerah tersebut akan maju jikalau pengelolaannya kurang baik. Karena jika berkaca dengan realita yang terjadi di Sumenep saat ini, SDA bukan lagi dijaga dan dipelihara dengan baik, melainkan di eksploitasi habis-habisan tampa melihat efek negatif jangka panjang yang akan terjadi.
Oleh: Moh. Naufal Abror
