Bukan Takdir, Tapi Kelalaian, inilah Alam Madura yang Tersakiti.


Sampah plastik masih berserakan di pesisir, dibakar begitu saja, atau dibuang ke laut. Di beberapa daerah, terutama di wilayah kepulauan seperti Raas, Sapudi, dan Kangean, laut yang dulu jernih kini mulai tercemar oleh limbah rumah tangga dan sisa bahan bakar kapal. Ironisnya, laut yang menjadi sumber kehidupan warga justru perlahan dirusak oleh tangan-tangan mereka sendiri.

Kesadaran untuk menanam pohon, menghemat air, atau mengelola sampah juga masih sangat rendah. Banyak warga tidak memiliki akses atau pengetahuan soal sistem pengelolaan sampah modern. Pemerintah daerah pun sering kali hanya hadir dengan program seremonial menanam pohon sekali setahun lalu lupa merawatnya.

Sementara itu, perubahan iklim sudah mulai terasa nyata: musim hujan yang tak menentu, kekeringan yang semakin panjang, dan berkurangnya hasil panen. Namun, tanpa pendidikan lingkungan yang memadai, semua itu hanya dianggap “nasib” atau “takdir,” bukan akibat dari kelalaian manusia sendiri.

Madura sebenarnya punya potensi besar untuk menjadi contoh daerah tangguh secara ekologis dengan tenaga surya, pengelolaan sampah berbasis desa, dan konservasi laut berbasis masyarakat. Tapi tanpa kesadaran kolektif dan dukungan nyata dari pemerintah, semua itu hanya akan jadi wacana yang tenggelam bersama sampah di pantai.

“Bumi Madura bukan tak subur, ia hanya lelah menanggung ketidakpedulian warganya sendiri.”

Hal yang sering luput dari perhatian di Madura adalah kesadaran terhadap lingkungan hidup. Padahal, tanah Madura yang kering dan keras seharusnya menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, banyak masyarakat  bahkan di generasi muda yang masih menganggap persoalan lingkungan sebagai urusan “sampingan”, bukan prioritas.


Oleh: Alan Labuhan Seregar.

*Kelas MGO 23

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama