Ketika Pemuda Madura Dipaksa Merantau oleh Rendahnya Gaji Rakyat Kecil dan Sakitnya Lowongan Kerja


Di setiap sudut Madura, cerita tentang anak muda yang merantau bukan lagi hal asing  itu sudah menjadi bagian dari identitas sosial yang diwariskan turun-temurun. Dari Bangkalan hingga Sumenep, dari pelabuhan Kalianget hingga dermaga kecil di Kangean, pemandangan orang-orang muda yang meninggalkan tanah kelahiran demi mencari penghidupan lebih baik sudah menjadi keseharian.

Ironisnya, Madura bukan tanah yang miskin potensi, tetapi tanah yang belum diolah dengan bijak. Lahan pertanian luas, lautnya kaya ikan, dan masyarakatnya terkenal pekerja keras. Namun di tengah potensi itu, lapangan kerja tetap sempit dan tidak berkembang. Pabrik besar jarang berdiri, investasi minim, dan dukungan terhadap usaha kecil masih lemah.

Banyak pemuda Madura akhirnya memilih pergi ke Surabaya, Bali, bahkan Malaysia atau Arab Saudi untuk bekerja. Sebagian berhasil, tapi tak sedikit pula yang pulang tanpa hasil, membawa luka dan cerita getir. Merantau bukan lagi pilihan, tapi jalan bertahan hidup.

Di sisi lain, pemerintah daerah sering bicara soal “pemberdayaan ekonomi rakyat”, tapi praktiknya masih jauh dari kata nyata. Bantuan modal hanya menyentuh kelompok tertentu, pelatihan kerja sering sekadar formalitas, dan tidak ada sistem keberlanjutan setelah acara selesai. Anak muda yang punya ide bisnis lokal sering kesulitan mengakses modal dan pasar karena birokrasi berbelit dan kurangnya jaringan dukungan.

Padahal, jika pemerintah benar-benar serius, Madura bisa menjadi pusat wirausaha dan ekonomi lokal berbasis potensi daerah. Misalnya, pelatihan digital marketing untuk produk garam, pengolahan hasil laut menjadi industri rumahan, atau pengembangan pariwisata berbasis budaya dan ekowisata di pulau-pulau kecil.

Sayangnya, arah kebijakan sering hanya berhenti di seminar, bukan solusi. Setiap kali musim pemilu tiba, janji tentang “lapangan kerja baru” selalu muncul, tapi setelah itu, pemuda kembali dibiarkan bertahan sendiri.

Generasi muda Madura hari ini tidak kekurangan semangat, mereka hanya kekurangan kesempatan dan dukungan sistemik. Mereka ingin bekerja di tanah sendiri, tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarga. Tapi selama kebijakan pembangunan tidak berpihak pada penciptaan lapangan kerja nyata bukan proyek jangka pendek maka Madura akan terus kehilangan generasi terbaiknya ke tanah-tanah lain.

Yang dibutuhkan sekarang bukan belas kasihan, melainkan keberpihakan nyata terhadap potensi lokal. Karena sejatinya, ketika anak muda punya tempat untuk berkarya di tanah kelahirannya sendiri, Madura tidak hanya akan bertahan  ia akan tumbuh menjadi daerah yang berdikari, kuat, dan membanggakan.


Oleh: Alan Labuhan Seregar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama