Musik tong-tong merupakan salah satu warisan khas budaya
Madura yang tetap hidup dan berkembang hingga saat ini, suara dentangan yang
khas serta berirama dinamis sering terdengar di berbagai acara, salah satunya
adalah di festival kebudayaan yang di adakan setiap tahun sebagai bentuk
perayaan ulang tahun kabupaten Sumenep.
Festival tong-tong bukan hanya khusus masyarakat Sumenep
saja namun seluruh wilayah di Madura seperti Pamekasan, Sampang dan juga
Bangkalan bisa turut serta setiap tahunnya dengan menampilkan kreativitasnya
masing-masing.
Namun pada festival tong-tong tahun ini menuai beberapa pro
dan kontra dari masyarakat. Salah satu dukungan dari acara ini adalah festival
tong-tong memberikan dampak ekonomi positif bagi UMKM, yang dimana dengan
adanya festival ini banyak UMKM merasakan peningkatan pendapatan karna festival
ini menarik banyak pengunjung, baik itu pengunjung lokal maupun dari luar
daerah yang berbelanja di sekitar lokasi acara.
Sedangkan di sisi lain ada sebagian masyarakat yang
mengkritik terkait beberapa ketetapan yang di lakukan pada festival ini, di
antaranya adalah adanya pagar pembatas yang membuat pemilik toko di sekitar
wilayah tersebut kesusahan saat ingin membuka tokonya, lalu yang kedua rute
yang di anggap terlalu dekat membuat penonton harus berdesak desakan akibat
kurangnya tempat, lalu berikutnya banyak
nya kabel yang putus akibat dekorasi tong-tong yang terlalu tinggi sehingga di
anggap menyusahkan PLN, dan terakhir kurangnya perhitungan jam yang dimana
peserta-peserta bagian urut terakhir di bubarkan oleh takmir mesjid dan
akhirnya terpaksa di bongkar di tengah jalan sebelum sampai ke finish.
Hal ini menuai banyak kritik dari masyarakat yang di mana
Disbudporapar dan juga panitia-panitia festival tong-tong di Sumenep di anggap
gagal pada event tahun ini.
Oleh: Amel Yumni.
.jpeg)