Di antara senja yang menua,
namamu menetes perlahan di bibir doa,
Putri,
seperti embun yang jatuh di hati,
mendinginkan resah yang tak sempat mati.
Kau datang tanpa aba-aba,
membawa senyum seindah fajar pertama.
Tatapanmu
tenang, namun cukup tajam
untuk menawan waktu yang berlari diam.
Andai cinta bisa kutulis di langit,
setiap bintang akan mengeja namamu,
dan bulan, malu-malu menunduk,
karena ia tahu,
ada cahaya yang lebih lembut darinya
di matamu.
Putri
kau bukan sekadar nama,
kau adalah kisah yang tak berujung titik,
tempat hatiku pulang,
setiap kali rindu mengetuk di malam yang sunyi.
Oleh: Deddy .G
Tags:
Buletin
