Puisi: Di Antara Dua Suara


Aku tumbuh di tengah sunyi,

bukan karena tak ada suara,

tapi karena terlalu banyak yang saling bertabrakan.

Ayah bicara lewat aku,

Ibu menjawab lewat air matanya.

Aku jadi jembatan yang rapuh,

dipaksa kuat di atas luka yang tak pernah sembuh.

Setiap kali mereka bertengkar,

namaku jadi senjata,

setiap diam mereka—

meninggalkan ruang kosong di dadaku.

Aku ingin berteriak,

bahwa aku bukan pesan,

aku bukan alasan untuk saling menyalahkan.

Aku cuma anak,

yang ingin dipeluk, bukan dijadikan pilihan.

Kadang aku pura-pura tertawa,

agar tak ada yang tahu aku retak di dalam.

Kadang aku pura-pura tak dengar,

padahal setiap kata mereka menancap di telinga.

Mereka berdua berkata “demi kamu,”

tapi kenapa semuanya justru menyakitiku?

Aku berdiri di antara dua suara,

tak tahu ke mana harus berpihak,

tak tahu siapa yang benar, siapa yang lebih dulu pergi.

Yang kutahu,

aku hanya ingin mereka kembali bicara—

bukan lewat aku,

tapi satu sama lain.


aku ingin mereka tahu—

aku tidak butuh penjelasan,

aku hanya ingin pelukan yang sama,

di bawah atap yang sama,

tanpa harus memilih siapa yang harus kucintai lebih dulu.

Aku lelah menjadi jembatan,

aku hanya ingin menjadi anak lagi—

yang bisa tertawa di antara dua suara,

tanpa takut salah satu akan pergi.


Oleh: Zhara

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama