Puisi: Kampus di Negeri Gerobak


Paradigma berlarian mengelilingi gedung megah

tempat derama-derama dipentaskan

wajah bengis bersembunyi dibalik topeng kebijaksanaan

buku-buku berserakan, bunga cempaka bertaburan di perpustakaan

nafsu-nafsu berkeliaran, gadis-gadis menawan,

pendidikan dihapus tuntas oleh kemaksiatan.

Sepatu, ransel, dan dasi, menjadi alat peralihan.

 

Kampus-kampus di negri gerobak

Hanya berisi sampah kopi sasetan

Aktivis berdiri gagah menuntut keadilan dengan satu kepalan tangan.

Namun saat lampu kota mulai remang,

Aktivis-aktivis itu mulai merampas keadilan

Dengan LC geratisan dipangkuan

Dan seteguk arak ditangan kanan.

Organisasi agamawan berdiskusi halal haraman

Yang katanya; “demi tercapainya kesejahteran”

Namun tatkala sendirian, ia tiba-tiba membunuh tuhan

Dan memandikannya dengan darah perawan.

Para penyair mendadak menjadi filsuf

Sangat dalam dan romantis membahas cinta

Namun di pojok kota,

Ia hanyalah budak kata-kata

Yang selalu dibuat gila oleh seorang wanita.

Disamping itu,

Rektor dan dosen tersenyum asri dengan janji menfasilitasi.

Namun diam-diam segala hal dikorupsi,

Dan janji-janji hanya penyedap rasa bagi perutnya sendiri.

 

Demikianlah kampus-kampus di negri gerobak

Perguruan tinggi hanya menjadi tempat pemuas nafsu birahi.

 

Candi, 6 oktober 2024.

Oleh: Afif kbr

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama