Aku pernah jadi tanah yang
disiram hujan
hanya separuh lalu retak
mencari arti basah.
Aku pernah jadi biji kecil
yang ditertawakan batu,
dibilang takkan pernah pecah.
Namun waktu, diam-diam
mengajari akar untuk sabar,
mengajari daun menantang
angin, mengajari luka mencintai bekasnya sendiri.
Tumbuh bukan tentang tinggi,
tapi tentang berani menegakkan diri
meski langit belum
bersahabat.
Dan Aku belajar dari setiap
gugur, bahwa jatuh
bukan lawan dari hidup
melainkan cara bumi memeluk kita.
Dan ketika akhirnya aku mekar
bukan karena musim menjadi ramah,
tapi karena aku memilih
bertahan meski dunia tak berjanji lembut.
Maka jika kau tanya,
bagaimana rasanya tumbuh?
Rasanya seperti menulis puisi
di atas luka,
dan membacanya dengan senyum kepada hari yang baru.
Oleh : Marv
Tags:
Buletin
