Puisi: Tumbuh



Aku pernah jadi tanah yang disiram hujan

hanya separuh lalu retak mencari arti basah.

Aku pernah jadi biji kecil yang ditertawakan batu,

dibilang takkan pernah pecah.

 

Namun waktu, diam-diam mengajari akar untuk sabar,

mengajari daun menantang angin, mengajari luka mencintai bekasnya sendiri.

Tumbuh bukan tentang tinggi, tapi tentang berani menegakkan diri

meski langit belum bersahabat.

 

Dan Aku belajar dari setiap gugur, bahwa jatuh

bukan lawan dari hidup melainkan cara bumi memeluk kita.

Dan ketika akhirnya aku mekar bukan karena musim menjadi ramah,

tapi karena aku memilih bertahan meski dunia tak berjanji lembut.

 

Maka jika kau tanya, bagaimana rasanya tumbuh?

Rasanya seperti menulis puisi di atas luka,

dan membacanya dengan senyum kepada hari yang baru.


Oleh : Marv

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama