untukmu yang kusebut bumantara hatiku
Pada malam yang berselimut kabut rahasia,
Tatkala langit menggigil menahan bisik tak terucap,
di mana cakrawala menyingkap jubah senja dengan lirih,
kutemukan namamu mengambang di atas langit,
bagai mantra yang dikidungkan oleh bintang-bintang yang
rindu pulang,
namun tak tahu jalan kembali.
Namamu tiada semata gugusan suku kata.
Menjelma semesta nan terbit dari tangis yang tak bernama,
yang hanya dapat kulafadzkan dalam bening air mata.
Katanya hadirmu bukan sebatas persinggahan,
melainkan titisan takdir, ditenun halus dari hikayat langit,
dari rahasia yang tak sempat dijelaskan rembulan kepada
bumi.
Aku mencintaimu dengan seluruh kesunyian yang kutemui dalam
diriku,
dengan tangis yang tiada bersuara.
dengan rindu yang tiada bertepi.
Aku mencintaimu bukan sebagai manusia yang ingin menggenggam
mu,
melainkan sebagai jiwa yang rela karam dalam bayang-bayang
hadir mu.
Kau adalah doa yang tak kunjung usai,
Bait puisi yang enggan ku tutup.
Kalimat yang abadi dalam jeda.
Saat matamu menatapku, bukan bumi yang berhenti berputar.
Melainkan waktu berhenti sejenak,
Seakan semesta memberi satu detik kekekalan untuk dua jiwa
yang saling mengenal,
namun tak saling menggenggam.
Jika kau tahu,
Bahwa detak jantungku tak pernah sinkron
kecuali saat kau menyentuhnya dengan senyummu,
menyentuhnya perlahan seperti belaian fajar pada luka malam.
Kau menyelamatkanku dari kehampaan yang nyaris abadi,
dari aku yang hampir hilang
dalam diriku sendiri,
Hampir tenggelam dalam keasingan.
Jika dunia harus padam,
Biarkan runtuh,
Biarkan ia reda dengan satu nama yang kupeluk erat:
Namamu.
Oleh: aku yang masih menyebut namamu dalam diam
