Di era ketika dunia nyaris sepenuhnya bergantung pada
internet, Madura masih berjuang untuk sekadar terhubung. Di banyak desa, sinyal
telepon sering hilang, jaringan data tersendat, dan anak-anak harus berjalan ke
bukit hanya untuk mengikuti kelas daring. Di kepulauan kecil seperti Raas,
Sapeken, hingga Masalembu, internet bukan kebutuhan harian tapi kemewahan yang
sulit dijangkau.
Digitalisasi di Madura seolah hanya jadi slogan di atas
panggung seminar. Pemerintah sering berbicara tentang “transformasi digital”,
tetapi fakta di lapangan jauh dari kata siap. Infrastruktur telekomunikasi
belum memadai, banyak wilayah belum terjangkau fiber optik, dan kualitas
jaringan sering tak stabil.
Dampaknya terasa di segala bidang.
Dalam pendidikan, anak-anak di desa tertinggal tidak punya
akses belajar daring, sementara siswa di kota lain sudah menggunakan teknologi
untuk mengembangkan diri. Dalam ekonomi, banyak pelaku UMKM di Madura
sebenarnya punya produk bagus garam, batik, hasil laut, atau kerajinan tapi tidak bisa menembus pasar digital karena
keterbatasan akses internet dan pengetahuan teknologi.
Lebih ironis lagi, banyak generasi muda Madura yang
sebenarnya melek media sosial tapi buta digitalisasi ekonomi. Mereka bisa
menggunakan TikTok, tapi belum tahu cara menjadikan konten sebagai ladang
penghasilan. Mereka paham dunia online, tapi tidak diberi bekal untuk bersaing
di sana.
Padahal, digitalisasi bukan sekadar kemajuan teknologi ia
adalah kunci kesetaraan. Dengan koneksi internet yang kuat, anak di Raas bisa
belajar coding seperti anak di Jakarta. Nelayan di Sapeken bisa menjual hasil
lautnya langsung ke pasar nasional tanpa perantara. Petani garam di Sumenep
bisa mengelola pesanan daring dengan harga yang adil.
Namun semua itu butuh keberpihakan nyata dari pemerintah:
pembangunan jaringan yang merata, pelatihan digital berbasis desa, dan dukungan
bagi UMKM lokal agar mampu masuk ke ekosistem online.
Selama internet masih dianggap barang sekunder di Madura,
maka kesenjangan informasi dan peluang akan terus melebar. Pulau ini bisa
tertinggal bukan karena rakyatnya bodoh, tetapi karena mereka diputus dari
dunia yang sudah bergerak cepat.
Sudah saatnya pemerintah dan penyedia layanan digital
berhenti menganggap Madura sebagai “pasar kecil”. Karena di balik keterbatasan
sinyal itu, ada jutaan mimpi yang menunggu kesempatan untuk bersuara, berkarya,
dan dikenal dunia.
Madura tidak butuh belas kasihan digital, ia butuh koneksi
yang adil dan peluang yang setara. Karena kemerdekaan di abad ini bukan lagi
hanya soal tanah dan laut, tetapi tentang siapa yang punya akses terhadap
informasi dan masa depan.
Oleh: Alan labuhan seregar.
