Puisi: “Epos Sang Penempuh Jalan Sunyi”

 


Seorang Wanita menapaki batas semesta

Bukan dibuana riuh, melainkan dinurani hampa

Ia memilih senyap dalam diksi utama

Perjalanan bermula diambang sang diri

Mencari makna yang terselubung tabir ilusi

Ia menanggalkan jubah yang ditenun opini

Melepaskan genggaman tangan yang tak hakiki

Dunia mendikte raganya harus rimbun

Berpakaian ramah, bersuara menenangkan khalayak

Namun, ia tahu jiwanya Adalah padang terjal yang tak terjamah,

Menuntut ketegasan, menolak belenggu kuat

Lalu, hadir ujaran dingin

Menilai sunyi sebagai kelemahan

Seolah eksistensi tak sah tanpa peran orang lain

Wanita itu berdiri dipersimpangan sepi

Dimana bayangan menjadi satu-satunya saksi

Ia putuskan bahwa ia tak berhutang validasi

Terhadap norma sosial yang memaksa integrasi

Ia menapaki jalan yang dilarang figurasi

Menjadi arsitek Nasib tanpa uluran dedikasi

Tiada dukungan dan pujian

Hanya kesetiaan pada azam sang pemimpin Langkah

Ia penempuh yang tak memerlukan peta

Sebab peta itu terlukis dipalung kalbu yang patah

Dan tiap hembusan napas yang ia hirup

“ aku Adalah perjalanan itu sendiri sebuah epos abadi, diukir dalam keheningan, mengagungkan otonomi, melampaui fatwa bumi”

 

Nayla; 19-oktober-2025

Perumahan residence sumenep


Oleh: Bintang Kecil

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama