Di balik jendela kehidupan kecilnya, dijalanan desa sepi,
senja menatap keramaian kota yang tak pernah tidur. Bunyi klakson dan deru
mesin menjadi melodi hidupnya. Nama itu senja, adalah anugerah dari ayahnya
yang selalu memandangnya sebagai penutup hari yang indah. Bagi senja itu
sendiri nama itu sterasa menjadi beban, karena setiap senja merasakan
kesendirian yang mendalam, seperti senja yang kehilangan warna jingganya.
Sudah berapa tahun lamanya setelah ia meninggalkan rumahnya.
Kebebasan terasa seperti pisau bermata dua, Menyenangkan sekaligus melukai.
Senja kuliah disebuah kota kecil, dengan hidup yang tidak
tahu arahnya seperti apa, dia melangkah dengan satu kaki yang terseok-seok. Dan
dia harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dirinya bisa berdiri di atas
kakinya sendiri. Bahwa ia bisa membangun dunianya sendiri tanpa bayangan besar
keluarga atau harapan-harapan yang dipaksakan.
Saat senja tiba, seperti biasa ia duduk termenung,
ingatannya jatuh pada kenangannya dulu, ia dulunya kusebut langit. Dia adalah
seseorang yang dengan singkatnya dipertemukan dan dipisahkan secara paksa.
Hidupnya terasa pahit namun saat Bersama langit setidaknya, beberapa jam dalam
waktu sehari ia bisa melupakan semua beban.
Suatu malam, disebuah kamar kecil itu Kembali mengguncang
dunia senja,hatinya sakit saat semua hal yang ia perjuangkan selama ini tidak
pernah ada gunanya. Senja menangis, hatinya dipenuhi keraguan. Dia merasa
rapuh, seperti daun kering yang siap diterbangkan angin. Dia butuh pelukan saat
itu, untuk bisa menguatkannya.
Tanpa sadar kakinya
membawanya kesuatu tempat Dimana iaa bisa berdian diri sendiri. Melihat
bayangan langit, senja tak bisa menahan air matanya. Langit seakan mendekat,
memeluknya dengan erat, dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menjadi Pelabuhan
Haluan ditengah badai.
Senja meringkuk sendiri, Dimana dirinya merasa tidak pernah
berharga, bagaimana ia lari untuk mencari jati diri, dan bagaimana ketakutan
untuk Kembali. Banyak ketakutan dan semua perjuangan yang ia sembunyikan.
Ia tertegun dalam hati “ langit, aku harus menghadapi ini
semua. Tapi aku takut, aku tak tau apakah aku sanggup melakukannya sendirian.”
Dengan suaranya yang bergetar senja menatap dengan tatapan
kosong mengadahkan wajahnya keatas langit lalu berkata “aku…..aku butuhh kamu.
Kumohon, tetaplah di sampingku. Aku tak memintamu untuk menyelesaikan
masalahku. Aku hanya memohon temanilah aku. Cukup itu saja.”
Tangisnya pecah. Matanya yang teduh memancarkan
kesungguhannya. Dia tidak menjawab dengan kata- kata tapi memberikan keyakinan
bahwa ia tidak akan pernah sendiri lagi.
Dibawah keraguannya, gadis itu mulai menemukan
keberaniannya. Dia sering menulis, menggambar dibuku sketsa, dan berbagi
mimpinya.
Dan ia memutuskan untuk tidak pernah membencinya. Dan dia
berkata “ terimakasih diri telah berjuang sekuat ini, meski harus melewati kian
banyak tusukan paku dan duri.”
Lalu… ia berdamai itu yang senja inginkan, tapi pada
nyantanya langit datang dengan segudang tanya.
“ maaf” katanya “ bolehkah saya bicara?”
Senja terkejut “ tentu” jawabnya
Hati senja tersayat mengingat perlakuannya yang sungguh
sangat tidak adil baginya.
“ dirimu tetap menjadi yang pertama” kata langit
“apakah itu yang dinamakan pertama?” jawabku “ gak akan
menjadi yang paling pertama terlupakan
seandainya dirikulah yang paling utama.” Dengan air mata yang sudah
menetes.
Langir tersenyum melihatnya “ karena ini semua ulahmu.”
Senja menatap tidak percaya akankah selama ini yang ia
pandang hanyalah tentang sakitnya, akankah ia buta dengan sakit yang kualami
hanya demi menyelamatkan hubungan yang berujung penyesalan ini.
Oleh: Bintang Kecil
