Puisi: Seputar Degub

 


Oleh: Moh. Marwan


Setiap cinta mengalir sebagaimana dendam

yang berusaha membunuhku, begitupula membunuhmu

detak dan detik selalu menciptakan perang

berkecamuk di antara teriakan dan kepasrahan.

 

Aku ingin menggambar cinta seperti lesung pipimu

Yang menyimpan bola mataku, seramai pesta tengah malam

Memecah keheningan meritualkan rindu benderang.

Barangkali aku tak kehilangan huruf-huruf puisiku

Yang sedang penuh irama menulismu.

 

Aku lupa tanggal kematian atas takdir mutlak itu

Bagi rindu akhir hidup hanya dongeng berlalu

Pada cinta kematian hanya soal raga sedang gejolaknya

Bergetaran di singgasana sorga.

 

Kasih, percayalah bahwa cinta tak selalu harus dipahami

Dia hanya perlu menari lebih daripada abadi.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama